Sabtu, 04 April 2009

Resensi Buku: Kekuasaan dan Pendidikan, Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural


Judul Buku : Kekuasaan dan Pendidikan; Suatu Tinjauan dari Pespektif Studi Kultural
Penulis : H.A.R. Tilaar
Penerbit : IndonesiaTera
Tahun Terbit : 2003
Jumlah Halaman : 351


Ilmu pendidikan modern berpijak pada analisis kebudayaan sebagai tempat praksis pendidikan terjadi. Hal ini dibedakan dengan ilmu pendidikan tradisonal yang bertolak pada peserta didik atau kepada proses yang terjadi (baca: sekolah). Adapun studi kultural merupakan wacana pemikiran yang menyeluruh mengenai kebudayaan suatu masyarakat secara keseluruhan. Studi tersebut meliputi seluruh aspek kehidupan budaya manusia dalam lingkungan masyarakat tertentu, diantaranya proses pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kegiatan-kegiatan kebudayaan lainnya dan bersama-sama bagian kebudayaan lainnya ikut mempengaruhi proses pembentukan kebudayaan.
Demikian penulis buku ini berujar mengenai pendidikan dan studi kultural. Kehadiran buku ini melengkapi pemikiran H.A.R. Tilaar dalam bidang pendidikan. Walau sudah mulai termakan usia, Profesor Tilaar merupakan seorang penulis produktif. Beberapa buku tentang pendidikan yang ditulisnya adalah buku dengan konten berbobot dan lumayan berat. Salah satunya adalah buku Kekuasaan dan Pendidikan ini.
Ditulis dengan menggunakan pendekatan studi kultural, pembaca akan diajak menyelami pemikiran Gramsci mengenai konsep hegemoni sampai Niccolo Machiaveli. Beberapa pemikir besar lainpun ia hadirkan untuk melengkapi pisau analisis pendidikan. Chomsky, Schopenhaur, John Dewey, Fukuyama, Foucault, Giddens, Giroux, Huntington, merupakan sederetan pemikir yang dijadikan rujukan oleh Tilaar dalam buku ini. Rujukan-rujukan tersebut merupakan bukti keseriusan beliau mendalami dan membaca setiap pemikiran yang muncul.
Mengenai konsep kekuasaan dalam hubungannya dengan pendidikan, Tilaar menyatakan bahwa kekuasaan dalam pendidikan adalah kekuasaan yang bersifat transformatif. Tujuannya ialah dalam proses terjadinya hubungan kekuasaan tidak ada bentuk subordinasi antara subjek dengan subjek yang lain. Kekuasaan yang transformatif membangkitkan refleksi, dan refleksi tersebut membangkitkan aksi. Orientasi yang terjadi dalam aksi tersebut merupakan orientasi yang advokatif (hal. 88).
Walaupun cukup berat untuk dipahami, pendekatan yang dilakukan oleh Tilaar akan sangat membantu kita dalam memahami relasi kekuasaan dan pendidikan. Pun kita juga akan terbantu dalam menerapkan konsep dan teori kekuasaan dalam pendidikan, dan menghubungkannya dengan realitas yang terjadi di Indonesia mengenai kekuasaan dan pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar