Sabtu, 04 April 2009

Danau Maninjau, Kangen Euy......!

Angin berhembus semilir di kabupaten Agam. Hawa sejuk pun menjamah tubuh dengan penuh kelembutan. Sementara itu keindahan alam makin terasa tatkala kemegahan gunung yang terhampar tegar di wilayah kabupaten yang beribukotakan Lubuk Basung ini, terhampar penuh pesona.Sebagai daerah yang terletak pada posisi yang strategis dalam wilayah propinsi Sumatera Barat, banyak menyimpan berbagai potensi keindahan alam dan budaya, Natural and freshly, serta kegiatan seni dan budaya yang unik dan menarik merupakan salah satu yang dapat dibanggakan apalagi didukung oleh kultur masyarakat rang Agam yang ramah-ramah. Sebagai artian,
Nan Merah SagoNan Kuriak kundiNan Indah BasoNan Baik Budi
Menunjang kepariwisatawan di Kabupaten Agam selain ditemukan keindahan alamnya tidak bisa terlupakan adalah kenangan yang termasuk didalamnya, kerajinan rakyat dan hasil berbagai kelompok yang bersifat kerajinan tradisional yang masih memakai hand made buatan tangan baik tenun bordir, sulaman, pandai besi, perak, emas secara apik dan indahnya bukan main yang secara turun temurun dikerjakan oleh anak nagari.Keseluruhan obyek wisata dapat dijangkau dengan jaringan transportasi untuk kemudahan mencapai kunjungan, sehingga dalam perjalanan daerah tujuan wisata akan ditemui kondisi alamnya, (gunung, bukit, lembah, dataran dan danau serta pantai), di dukung pula oleh pemanfaatan lahannya yang dapat menciptakan begitu banyak panorama alam yang sangat indah dan sangat mudah ditemukan dan terlihat dari jalan raya utama yang dilewati.Makanya, kali ini kami sengaja mengajak anda untuk berwisata ke berbagai objek wisata di kabupaten Agam dan merupakan gerbang wisata Sumatera Barat.Dan bila anda menyempatkan diri berkunjung ke Kabupaten yang kini kembali dipimpin Aristo Munandar dan juga merupakan putra asli daerah ini, bila anda dari Bukittinggi menuju Maninjau atau Lubuk Basung, dalam perjalanan pasti anda akan mendapatkan pemandangan yang cukup menarik, yakni lenggok kerbau yang sedang menghela pedati di jalanan. Bahkan begitu menariknya pemandangan ini, penyanyi legendaris Minangkabau, Elly Kasim pernah mendendangkannya dalam sebuah lagu yang berjudul Kabau Padati.Pedati, semacam gerobak yang ditarik oleh kerbau, dijadikan alat pengangkut barang di zaman dahulu, dan kini masih dijumpai disekitar daerah Lawang, Palembayan, Lubuk Basung dan Baso.Karena lambat jalannya sarat dengan muatan siganjo lalai, maka diberi tanda bunyian ganto (genta) dileher kerbau, membuat perjalanan dikesunyiaan ditingkah oleh gemercing ganto. Dan bunyi ganto inilah yang paling menarik wisatawan untuk mendengarkannya dengan khidmat.Pedati sering diibaratkan dengan rundungan nasib suratan, rodanya dilantunkan dengan “bak cando roda pedati” sekali naik rezeki sekali menurun. Di samping ungkapan kerbau dalam menghela, jauh lagikah pemberhentian.Saat ini, objek wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara adalah Puncak Lawang yang berada di atas ketinggian ± 1.210 m diatas permukaan laut. Pada zaman penjajahan Belanda. Puncak Lawang sudah dijadikan sebagai tempat peristirahatan bagi kaum bangasawan Belanda saat itu. Dari sini kita dapat menikmati kawasan Danau Maninjau dan juga Samudra Indonesia.Dan disebabkan tempatnya yang berada di atas ketinggian serta pemandangannya yang begitu memukau, maka saat ini kawasan Puncak Lawang dikembangkan sebagai lokasi Take Off Olah Raga Dirgantara Paralayang (Paragliding). Sambil melayang-layang bebas di udara dan menjelang mendarat di Bayur, tepian Danau Maninjau, dari udara kita dapat menikmati keindahan Danau Maninjau yang tiada duanya di dunia ini.Bagi mereka yang menyukai tantangan dan lintas alam dapat berjalan kaki menuruni lereng menuju Danau Maninjau atau melintasi hutan lindung ke Objek Wisata Embun atau kembali ke hotel. Dan perjalan wisata kita kurang lengkap jika belum mencoba menikmati keindahan Danau Maninjau dari udara dengan Terbang Tandem mengunakan Paralayang bersama penerbang-penerbang lokal yang handal dan terlatih.Bila anda masih punya waktu untuk berada di Puncak Lawang, jangan lupa membeli dan mencicipi manisnya Saka Lawang. Lelah dalam perjalanan tak ada salahnya untuk rehat sejenak. Untuk menghilangkan rasa dahaga anda bisa peroleh dari batang tebu, sebab hampir keseluruhan daerah ini dipenuhi Batang Tebu yang sengaja ditanam sebagai mata pencaharian masyarakat Puncak Lawang.Melalui proses tradisional tebu ini diolah menjadi gula tebu (saka) yang digunakan sebagai bahan pemanis untuk masakan, terutama kue. Saka Lawang cukup populer ditengah-tengah masyarakat Minang.Jika kita ingin berwisata menikmati Danau Maninjau atau ingin menikmati Panorama Embun Pagi dan Embun Tanai serta keindahan Puncak Lawang jangan lupa singah dulu di Pasar Matur, guna membeli Kacang Matur, kacang rendang yang gurih untuk menemani perjalanan wisata anda nantinya.Tak jauh dari Puncak Lawang, anda juga bisa menikmati panorama yang indah dari Embun Pagi. Disini, sesuai dengan namanya, suasananya selalu bagaikan kita berada di pagi hari. Sejuk dan nyaman.Objek wisata Embun Pagi, terletak tidak seberapa jauh dari objek wisata danau Maninjau dan juga berada pada ketinggian sekitar ± 1.000 M dari permukaan laut, dan memberikan kebebasan pada Anda untuk melayangkan pandangan menikmati keindahan alam sekitarnya. Dari sini, Anda juga bisa meninkmati pesona yang dipancarkan oleh objek wisata Danau Maninjau.Maninjau berasal dari kata tinjau, semula ada rombongan hanya ingin meninjau saja, ternyata jadi menetap (Nagari Maninjau), berlanjut dengan melakukan kegiatan keingin tahuan lebih mendalam dengan cara menyigi seperti nama kampung Sigiran. Sewaktu menyigi itu banyak dijumpai pohon Bayua jadilah sekarang Nagari Bayua. Sebagai bukti dari alam takambang dijadikan guru.Menurut legenda/cerita lama asal Maninjau ini, berkembang dari legenda Bujang Sembilan, dimana dari keluarga terdiri dari 10 orang, 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani, keelokkan paras dan kucindannya (perilaku) menjadi daya pikat tersendiri olrh pemuda bernama Sigiran yang kemudian menjalin asmara.Datanglah tuduhan dari Bujang bahwa selama menjalin asmara telah terjadi perbuatan amoral. Tuduhan itu dibuktikan oleh kedua insan dengan cara melompat terjun kekawah gunung Tinjau sebagai sumpah atas pembuktian, manakala terbukti, maka gunung Tinjau akan meletus dan menenggelamkan kampung itu, sebagaimana Danau maninjau sekarang yang masih ada kawah. Sedangkan Bujang Sembilan dikutuk menjadi ikan, konon masih hidup hingga kini.Berbagai fasilitas pendukung juga tersedia di Maninjau, salah satunya Hotel Maninjau Indah. Atraksi kesenian dapat anda nikmati, seperti pantun dan lagu Kim Rajo bintang selaku pionir yang telah berjasa mengembangkan wisata lainnya sperti hotel, home stay dan cafe serta makanan spesifik danau yang bisa anda cicipi seperti : rinuak, bada hitam, ikan bakar, pensi yang mempunyai cita rasa yang spesifik.Karena kemilaunya yang menggoda, tak heran pesonanya dilukiskan pula dalam pantun :Jika makan sirih, makanlah dengan pinang yang hijau. Jika ke Ranah Minang, jangan lupa berkunjung ke ManinjauDari Embun pagi ini, bila anda turun menuju Danau Maninjau dengan kendaraan pribadi atau bus umum, maka anda akan melewati kawasan Kelok Ampek Puluah Ampek. Menjelang sampai di bawah, anda akan menjumpai aneka macam souvenir seperti topi dari anyaman pandan, tas kampia, koleksi kalung, gelang dari tulang serta tanaman menjalar buah labu yang berkhasiat obat sekaligus dapat dijadikan penganan.Kawasan ini diberi nama Kelok Ampek Puluah Ampek, dalam bahasa Indonesianya tikungan 44, karena memang menjelang kita sampai di Danau Maninjau, kita akan melalui tikungan tajam sebanyak 44 kali. Pada tiap tikungan yang tajam itu, selalu diberi tanda sudah berapa tikungan yang kita lewati, dan semua tikungan itu berjumlah 44 buah.Begitu anda sampai di bawah, maka anda akan disambut sebuah simpang tiga. Bila belok ke kiri, maka anda bisa pergi berkunjung ke rumah kelahiran Buya Hamka di Sungai Batang, tepatnya di Kampung Muaro Pauh. Di sebuah rumah sederhana 1908 atau 1325 Hijriah itulah Hamka dilahirkan. Sekarang bangunan bersejarah itu telah ditempatkan sebagai museum rumah kelahiran Buya Hamka. Bila belok ke kanan, anda bisa menuju Lubuk Basung, ibukota kabupaten Agam.Berkunjung ke rumah kelahiran Buya Hamka merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan dengan kebesaran dan nama besar Buya yang umbuh menjadi ulama besar, sastrawan dan tokoh pemimpin umat. Berkat kepiawaiannya itulah Hamka dianugerahkan gelar Prof. Dr. Hamka.Buya Hamka tidak saja di kenal di Indonesia tapi juga di kagumi melebihi batas atanah air. Di Malaysia, disertai gelar Doktor mengenai Hamka cukup banyak. Tak heran banyak warga Malaysia yang berkunjung ke museum rumah kelahirannya.Ketauladanan, keteguhan dan kegigihan dalam mempertahankan prinsip serta rasa toleransi dapat dilihat dalam kehidupan Buya Hamka. Buya juga seorang pujangga, filosofis dan penulis besar. Tenggelamnya Kapal Vander Wijck merupakan salah satu bukunya yang terkenal. Dia juga pernah menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia. Hal itu tak lepas berkat tempaan dan pendidikan yang ditanamkan ayahnya Syekh Abdul Karim Amarullah.Sebelum sampai di Rumah kelahiran Buya Hamka, Anda akan melewati perkampungan syiar agama yang lebih dikenal dengan sebutan Jorong Binaan Islami Qoriah Tarbiyah.Ya, Maninjau memang dikenal banyak melahirkan tokoh nasional dan internasional dibidang agama, politik, ekonomi pendidikan. Tidak saja Buya Hamka, tetapi juga AR. Mansur, Moh. Natsir, Rasuna Said, Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa (mantan Gubernur Sumbar), mantan Menko Kesra Bachtiar Chamsyah dan sebagainya.Bila anda memilih belok kanan begitu sampai di Maninjau dari Kelok Ampek Puluah Ampek menuju Lubuk Basung, maka setelah anda melewati PLTA Maninjau, disebelah kanan jalan, tepatnya dipinggir jalan menuju Muko-Muko, anda akan menemui sebuah kolam berukuran sekitar kurang lebih 1.5 x 2.5 M. Kolam ini cukup unik, dan sulit dicerna dengan akal sehat. Sebab di dalam kolam ini terdapat air yang cukup aneh. Air ini memiliki 3 rasa yang saling kontradiksi, yaitu manis, asam, dan pahit. Tempat ini dikenal dengan nama Air Tigo Raso (Air dengan tiga rasa berbeda).Aneh tapi nyata, begitu kesan pertama yang muncul ketika Anda pertama kali mendatangi objek wisata ini.Kolam air Tigo Raso yang terletak di Kota Malintang ini, diyakini oleh masyarakat setempat memiliki kekuatan gaib. Masyarakat mempercayai bahwa airnya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Dan yang utama, air ini diyakini bisa membuat Anda awet muda. Bila anda mempunyai keinginan untuk tetap awet muda, tidak ada salahnya untuk mencoba !Banyak lagi objek wisata yang bisa anda kunjungi di Agam ini. Karena tempat terbatas, lain kali akan kami sajikan objek wisata lainnya. ***

(dhilla.wordpress.com/2006/07/06/danau-maninjau-surga-dunia-bagi-wisatawan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar